recent

Saya Memutuskan Menulis, Karena.....

Moms pernah kah terbesit dalam benak bahwa sebagai manusia ada perasaan dan keinginan untuk dikenang dan bagaimana caranya agar keinginan itu terealisasi sedangkan kita ini bukan siapa-siapa. Menurutku perkara ini penting setidaknya harus kita sendiri yang menulis sejarah hidup kita sehingga bisa dikenang oleh anak-cucu kita nanti karena saya merasakan sendiri jika saat ini saya kurang mengenal asal-usul keluarga saya karena minimnya cerita yang orangtua berikan. Sampai-sampai saya juga merasa asing dengan keluarga sendiri karena memang jarak yang tak dekat mengurangi keakraban bahkan kami pun tak saling kenal. Sejarah akan hilang seiring waktu jika tak ada yang mengabadikan, karena alasan itulah aku memutuskan untuk menulisny.

Sejarah adalah pengalaman dan pengalaman adalah ilmu yang berharga dengan mengetahui banyak pengalaman maka akan lebih baik pula kita mempersiapkan rencana masa depan. Tak sedikit saat ini orang-orang mencari konsultant atau sederhananya banyak bertnya pada orangtua karena memang mereka lah yang lebih faham dan lebih dahulu mengalami manis pahit kehidupan dan yang terpenting adalah kita yang sebaiknya mengambil hikmah dari setiap kejadian. Saya menulis ini semata-mata hanya untuk mengamalkan ilmu dan pengalaman saya bukan hanya untuk dikenang anak-cucu saya nanti. Ini juga termasuk pada ajakan agar kita mau mengamalkan ilmu. Nanti akan ada kolom khusus di blog ini yang membahas tentang pengalaman hidup saya dan suami serta obrolan seputar keluarga besar kami. kami berharap ada hikmah dibalik apa yang kami beri. Oleh karena itu mari mengamalkan ilmu walau pun ini sederhana :)
Saya ingat dengan penggalan ayat Al-Qur'an, Alloh berfirman dalam Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 269:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ

"Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah: 269).

Maksud dari ayat diatas adalah:
Tatkala Allah menjelaskan tentang kondisi orang-orang yang menafkahkan hartanya, dan bahwa Allahlah yang memberikan kepada mereka dan mengaruniakan untuk mereka harta yang mampu mereka keluarkan nafkahnya di jalan-jalan kebajikan, dan dengan itu mereka memperoleh kedudukan yang mulia, Allah menyebutkan apa yang lebih besar dari hal tersebut, yaitu bahwasanya Allah akan memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan siapa yang Dia kehendaki kebaikan padanya dari hamba-hambaNya.

Hikmah itu adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, pengetahuan yang mumpuni, akal yang terus, pemikiran yang matang dan terciptanya kebenaran dalam perkataan maupun perbuatan. Inilah seutama-utamanya pemberian dan sebaik-baiknya karunia. Karena itu Allah berfirman, ( وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ): "Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak". Karena dia telah keluar dari gelap kebodohan kepada cahaya petunjuk, dari kepandiran penyimpangan dalam perkataan dan perbuatan menuju tepatnya kebenaran padanya, serta terciptanya kebenaran. Dan karena ia telah menyempurnakan dirinya dengan kebajikan yang agung dan bermanfaat untuk makhluk dengan manfaat yang paling besar dalam agama dan dunia mereka.

Seluruh perkara tidak akan berjalan baik kecuali dengan hikmah, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkan segala perkara pada posisinya masing-masing, mendahulukan perkara yang harus didahulukan, mengulur perkara yang memang harus diulur.

Akan tetapi tidak akan diingat perkara yang agung ini dan tidak akan diketahui derajat pemberian yang besar ini, (إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ); :"kecuali orang-orang yang berakallah." Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki akal sehat dan cita-cita yang sempurna. Mereka itulah yang mengetahui yang berguna lalu mereka melakukannya dan yang mudharat lalu mereka meninggalkannya. Kedua perkara ini yaitu mengerahkan nafkah-nafkah harta dan mengerahkan hikmah keilmuan adalah lebih utama bagi orang yang mendekatkan diri dengannya kepada Allah dan perkara yang paling tinggi yang menyampaikannya kepada kemuliaan yang paling agung. Kedua perkara itulah yang disebutkan oleh Nabi shallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya,


لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي اْلحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ اْلحِكْمَةَ فَهُوَ يُعَلِّمُهَا النَّاسَ.

"Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara; seseorang yang telah diberikan oleh Allah harta lalu ia menguasainya dengan menghabiskannya dalam kebenaran dan seseorang yang diberikan oleh Allah hikmah lalu dia mengajarkannya kepada manusia". (HR. al-Bukhari no.73, dan Muslim no.816 dari hadits Ibnu Mas'ud)

Pelajaran berharga dari ayat:

1. Penetapan perbuatan bagi Allah yang bergantung pada kehendak-Nya, ini berdasarkan firman Allah: (يُؤْتِي الْحِكْمَةَ): “Allah menganugerahkan al-Hikmah”, ini adalah bagian dari sifat dalam bentuk perbuatan.

2. Sesungguhnya apa yang ada pada manusia berupa ilmu, petunjuk maka itu semua adalah keutamaan dari Allah ta’ala, ini berdasarkan firmanNya: (يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ): “Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki”, maka jika Allah ta’ala memberikan nikmat kepada seorang hamba berupa ilmu, petunjuk, kekuatan, kemampuan, pendengaran, penglihatan maka janganlah ia sombong, karena itu semua dari Allah ta’ala, jika Allah berkehendak maka bisa mencegahnya, atau ia bisa jadi ia mencabut nikmat itu setelah ia menganugrahkannya kepada seseorang. Bisa jadi Allah mencabut Al-Hikmah dari seseorang, maka jadilah setiap tingkahlakunya gegabah, keliru dan sia-sia.

3. Penetapan kehendak bagi Allah ta’ala, ini sesuai dengan firmannya: (مَن يَشَآءُ): “Yang ia kehendaki”

4. Penetapan Al-Hikmah bagi Allah ta’ala, karena Al-Hikmah merupakan sifat kesempurnaan, maka Dzat yang memberikan kesempurnaan tentunya ia adalah lebih pantas untuk hal tersebut.

5. Kemuliaan yang agung bagi orang yang diberikan kepadanya Al-Hikmah, ini berdasarkan firman Allah ta’ala: (وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا): “Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak”.

6. Wajibnya bersyukur bagi orang yang Allah ta’ala berikan kepadanya Al-Hikmah, karena kebaikan yang sangat banyak ini mewajibkan mensyukurinya.

7. Anugrah Al-Hikamah diberikan Allah kepada seseorang melalui banyak cara, (diantaranya) Allah ta’ala fitrahkan ia dengan hal tersebut, atau dapat diraih dengan latihan dan berteman dengan orang-orang yang arif.

8. Keutamaan akal, ini berdasarkan firmanNya: (وَمَايَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ) : “Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

9. Bahwa orang yang tidak dapat mengambil pelajaran, menunjukan akan adanya kekurangan pada akalnya, yaitu akal sehat, akal yang memberikan petunjuk pada dirinya.

10. Tidaklah yang dapat mengambil pelajaran dari pelajaran yang terdapat di alam dan pada syariat ini kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat, yang mana mereka menghayati dan mempelajari apa yang terjadi dari tanda-tanda yang telah lalu dan yang akan datang, sehingga mereka dapat, mengambil pelajaran darinya. Adapun seorang yang lalai, maka hal tersebut tidak memberikannya manfaat dan pelajaran (sedikitpun).

[Sumber: Tafsir al-Qur-an al-Karim, oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin jilid 3, Tafsir as-Sa'di, oleh syaikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa'di]

Al-Qur'an adalah sumber utama untuk manusia mengambil pelajaran karena ini memang petunjuk yang Alloh SWT tetapkan bagi seluruh manusia yang dianugrahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terinspirasi dari ayat inilah maka saya juga ingin menuliskan apa yang menjadi pengalaman hidup saya untuk anak-anak kelak agar mereka bisa mengambil pelajaran dari kami sebagai orangtua. Kami akan bangga jika anak-anak kami juga mengenang kami serta mereka juga mengetahui bagaimana perjuangan kami. Karena do'a mereka lah yang akan menjadi penerang kami saat kami telah tiada yaitu do'a anak-anak sholeh. Semoga kita termasuk dalam orang-orang yang selalu diberi Al-Hikmah oleh Alloh SWT. Aamiin Ya Alloh Ya Robbal Alamiin

Tulisan ini ku persembahkan untuk mereka anak-anakku tercinta.

No comments

Silakan berikan tanggapan ataupun komentar. Jika komen terdeteksi Spam akan kami hapus.

Powered by Blogger.