recent

Tata Cara Seks dalam Islam

Sungguh para ulama rahimahumullahu ta'ala sangat memperhatikan hal ini, dan menjelaskan adabul jima' dengan berpedoman pada hadits-hadits Nabi yang mulia dan atsar salafussholih rahimahumullahu ta'ala. Diantara kitab yang terpenting dalam pembahasan ini adalah kitab 'Isyrotun Nisaa' karangan Imam An-Nasa'i, dan apa yang disebutkan Imam Al Ghozali dalam Ihya'. Andaikan aku ingin membahas secara luas tentang 'adabul jima' tentu sulit, dan hal itu karena banyaknya cabang pembahasan. Karena itu cukup saya sebutkan hal-hal yang penting, yaitu :

Membaca bismillah dan berdo'a sebelum berjima', sebagaimana diriwayatkan Bukhori dan Muslim serta Ahmad dan Ashabus-sunan dari Abdullah bin Abbas r.a , bahwa Rasulullah Saw bersabda :

["Jika seorang diantara kalian mendatangi isterinya dan mengucapkan :'Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syaithan dari kami, dan jauhkanlah syaithan dari apa yang engkau berikan kepada kami', maka seandainya Allah menentukan baginya anak dari hubungan tersebut syaithan tidak akan mengganggu anak tersebut selamanya"]

gambar dari www.vemale.com
Mempersiapkan diri dengan pendahuluan-pendahuluan jima', yaitu dengan melakukan pendahuluan-pendahuluan jima' yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Dengan tujuan jangan sampai suami mendatangi isterinya yang dalam keadaan isterinya lalai (tidak siap) dan memaksakan keinginannya terhadap isterinya sampai isterinya lapang dada untuk itu dan menerima ajakan suaminya. Sesungguhnya seorang istri mencintai suami, sebagaimana suami mencintai isterinya. Akan tetapi istri tidak senantiasa siap untuk berjima' setiap saat sebagaimana laki-laki.

Lemah lembut dan tidak tergesa-gesa. Sesungguhnya tujuan bersetubuh ialah mencurahkan kasih sayang bagi suami isteri dengan menunaikan dan menyalurkan syahwatnya pada pasangannya, yaitu dengan mendapatkan kepuasan dari masing-masing keduanya dan perasaan puas ketika bersetubuh (orgasme). Hal itu tidak akan terwujud kecuali bila suami bersikap lemah lembut dan tidak keras serta tidak kasar. Suami yang keras dan kasar menyebabkan isteri lari darinya dan enggan mendekat karena suami talah menyakitinya. Maka bagi suami supaya bersikap lemah lembut dan tidak boleh tergesa-gesa dalam menyalurkan syahwatnya. Memang, seorang laki-laki lebih cepat mencapai orgasme (menumpahkan air maninya) dibanding dengan seorang wanita, maka dituntut kesabarannya. Bila suami telah menunaikan hajatnya (sudah p) sedang isteri belum mendapatkan kepuasan, maka hendaknya suami tidak tergesa-gesa untuk meninggalkan isterinya, sampai isterinya mendapatkan kepuasan. Karena perginya suami dari isteri sebelum isterinya puas, akan menyakiti isterinya.

Menyendiri antara suami-isteri. Bila suami ingin menjima'i isterinya hendaknya keduanya menyendiri tanpa seorang pun bersamanya, meskipun anak kecil. Sungguh Al-'Allamah Muhammad Al-Abdari yang lebih dikendengan sebutan Ibnul Haj telah menyebutkan dalam kitabnya Al-Madkhol, bahwa Abdullah ibnu Umar r.a jika ingin mendatangi istrinya beliau keluarkan anak-anak yang masih menyusu dari rumahnya. Sebagian ulama' berkata : "Tidak pantas seorang suami melakukan hal ini (bersetubuh), sedangkan ada kucing di rumahnya." (Kucing saja termasuk yang harus disingkirkan... apalagi yang lainnya). Ini adalah peringatan agar suami isteri itu selamat dari pandangan orang lain. Karena hal itu termasuk aurat yang wajib ditutupi.

Memakai selimut. Telah kami sebutkan dalam pemanasan jima' : Sesungguhnya tidak apa-apa suami isteri telanjang, karena tidak ada larangan secara mutlak. Akan tetapi lebih baik ketika berjima' untuk memakai selimut bagi keduanya. Dan jima' di dalam selimut lebih menutup aurat keduanya, tetapi jika hal itu tidak dilakukan maka tidak apa-apa.

Wallahu a'lam

No comments

Silakan berikan tanggapan ataupun komentar. Jika komen terdeteksi Spam akan kami hapus.

Powered by Blogger.