recent

Seputar Poligami dan Hikmahnya

Poligami sampai empat isteri itu boleh dalam Islam artinya itu bukan wajib, bukan haram, karena firman Allah Swt :

["maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat anianya"] An-Nisaa' : 3



Maka boleh bagi laki-laki untuk mengumpulkan empat wanita dalam perlindungannya, jika dia mampu berbuat adil diantara mereka dan mampu memberikan nafkah pada mereka, berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan semua yang harus dipenuhi dari yang lain-lain dari konsekuensi berumah tangga.

Dan poligami itu banyak manfaatnya di antaranya :

Membantu seorang laki-laki yang tidak cukup dengan hanya beristeri satu, untuk menjaga dirinya dari zina.

Menahan perbuatan keji (zina) di masyarakat, karena bila telah terpaut hati seorang lelaki dengan perempuan sampai pada tingkat cinta dan rindu, maka tidak ada perkara di depannya, kecuali dua perkara : bisa jadi dia nikah, maka halal dan bisa juga dia zina, maka haram. Orang yang berakal tidak akan memilih jalan yang kedua, maka jika memang dia harus memilih dua perkara ini, wajib baginya untuk menikah, mengamalkan hadits :

["Tidaklah didapati dua orang yang saling mencintai seperti dalam pernikahan"] HR Ibnu Majah dan Al-Hakim, dari Abdullah bin Abbas r.a , shohih.



Menolong janda-janda dan perawan-perawan tua yang tidak ada yang meminang mereka, lebih-lebih setelah perang, dimana laki-laki meninggal dalam jumlah besar baik yang telah menikah maupun belum menikah. Maka janda-janda mereka dan perawan-perawan mereka, apakah lebih baik mereka tetap seperti itu tanpa suami yang menolong mereka dan membiarkan mereka tetap menjadi perawan-perawan tua dan menjanda ? Tentunya tidak, jelas lebih baik bagi mereka menjadi isteri kedua atau ketiga atau keempat, jika memang perempuan itu menginginkan yang demikian.

Sungguh kami tahu adanya penentangan yang banyak di sana-sini atas disyari'atkannya "poligami", terutama di luar kaum muslimin, dan juga sebagian kaum muslimin yang kebarat-baratan. Tak lupa juga adanya penentangan di kalangan kaum wanita terhadap poligami, hal ini didorong kecemburuan secara fitrah pada mereka, dan untuk mereka semua kami katakan :

Sesungguhnya poligami itu tidak wajib, tapi mubah, dan makna al-Ibaahah ialah dia berhak untuk melakukan atau tidak melakukan hal tersebut, baik laki-laki ataupun perempuan. Maka bila seorang lelaki ingin punya isteri kedua, lalu telah menyampaikan keinginannya untuk itu (pada wanita) kemudian ditolak, dan tidak seorang wanitapun menerima untuk jadi isteri kedua, maka bagi laki-laki ini apakah jadi ta'addud (poligami) ? Jawabannya yang pasti adalah 'tidak', karena kebanyakan wanita melarang suaminya berpoligami. Tatkala tak seorang pun diantara mereka menerima poligami maka ketika itu selesailah perkara. Akan tetapi, kami melihat tidak demikian, wanita menolak poligami karena sebagian mereka beranggapan bahwa dengan poligami itu mengurangi hak-hak dan nilai-nilai mereka. Namun, ketika salah seorang mereka dipinang oleh orang kaya dan mempunyai kedudukan terhormat, dia senang padahal dia tahu hal itu akan menyebabkan marah dari isteri pertamanya dan menjadi madu bagi isteri pertamanya tapi dia tidak peduli.

Sesungguhnya masyarakat yang berpoligami itu merupakan masyarakat yang terhormat dan mulia, sebab isteri tetap mempunyai hak yang sempurna, baik itu yang pertama maupun yang keempat, yaitu perkumpulan yang melapangkan jiwa dan seks sehingga jarang terjadi perzinaan dan kekejian. Karena syahwat manusia bila telah merasa kenyang dari yang halal maka dia tidak akan menengok pada yang haram, kecuali orang yang rusak akhlaqnya.

Sesungguhnya wanita lebih sedikit syahwatnya dibanding laki-laki, bahkan lewat padanya hari-hari dimana dia haid, nifas, dan hamil, yang pada waktu itu tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya secara mutlak, bahkan dia menjauh dari suaminya. Dan dia tidak merasa senang berdekatan dengan suami kecuali menjelang hari-hari dia haid, dan satu minggu setelah haid atau semisalnya, atau setiap 15 hari. Sedangkan syahwat lelaki sering datang bergejolak setiap waktu, karena tidak adanya apa yang bisa meredam atau mendinginkannya.

Bukan hal yang asing jika wanita memberontak dalam menghadapi poligami, karena kecemburuan pada wanita akan menolak hal itu. Tetapi menolaknya tersebut atas dasar kecemburuan saja tidak atas dasar menolak pada hukum syariat tentang kebolehan ta'adud dan dia akan segera mencela dan menganggap hal tersebut mendzolimi wanita. Sesungguhnya termasuk hak pada isteri pertama menolak untuk dimadu yaitu suami menikah dengan wanita lain, karena ini dianggap menyakitkan dan menyiksanya. Akan tetapi dia tidak boleh mengingkarinya atau menolak hukum syariat yang telah diputuskan-Nya bahwa pernikahan suami dengan wanita lain adalah halal dan disyariatkan. Maka sesungguhnya telah diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dan lain-lain bahwa telah datang pada Nabi Saw suatu berita bahwa Ali bin Abi Thalib r.a ingin menikah lagi (selain Fathimah) maka beliau r marah karena itu dan berkata: "Fatimah itu bagian dariku, maka barang siapa menyakitinya berarti menyakitiku". Maka boleh bagi wanita untuk enggan dimadu dan menolak madunya. Dia boleh membuat syarat bagi suaminya ketika aqad agar tidak menikah lagi. Jika suaminya melakukannya maka akan terjadi dia tercerai, karena kebencian dia untuk dimadu disebabkan oleh rasa cemburunya, berdasarkan fitrah dan perasaannya. Akan tetapi tidak boleh bagi wanita untuk benci pada hukum syariat yang membolehkan poligami, karena hukum syariat akan memelihara kemaslahatan dan kenyataan, maka wajib dia untuk berserah diri pada hukum Allah Swt dan syariat-Nya, agar terwujud keimanan yang sempurna dan benar sebagaimana firman Allah Swt :

["Dan tidaklah patut bagi lakilaki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata"] Al-Ahzaab : 36



Hikmah Poligami

  1. Dapat pahala menghidupkan sunnah Rasulullah Saw.

  2. Menyalurkan gelora gairah sex pada jalan yang halal, karena laki-laki tidak cukup dengan satu isteri, disebabkan laki-laki besar syahwatnya daripada wanita.

  3. Memelihara dan membimbing para wanita, maka jika laki-laki nikah hanya satu, maka yang lain tidak terpimpin dan terbimbing padahal wanita lebih banyak jumlahnya.

  4. Memacu persaingan sehat para isteri, sehingga akan memberikan servis yang terbaik bagi suaminya.

  5. Memperbanyak keturunan, karena Rasulullah Sawakan bangga dengan keturunan yang banyak.

  6. Lebih menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.

  7. Dapat pahala shodaqoh, karena satu suap yang diberikan pada isteri itu adalah shodaqoh dan bahkan ini seutama-utamanya shodaqoh.

  8. Mempererat ukhuwah atas keluarga para isteri.

  9. Mengatasi kekecewaan-kekecewaan suami pada salah seorang isteri dan saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada pada masing-masing isteri.

  10. Mengurangi kemaksiatan yang terjadi akibat kekecewaan terhadap salah satu isteri.

  11. Usaha yang halal untuk mencari cinta.

  12. Ujian kesabaran isteri, karena yang tidak sabar akan minggir.

  13. Mengangkat derajat wanita atau muslimat, mencegah penyelewengan (WTS, PSK).

  14. Akan menambah rezeki pada keluarga tersebut.

  15. Menjadi sarang pendidikan informal.

  16. Memelihara nasab dan keturunan.

  17. Membuat awet muda.

  18. Membesarkan kemaluan, karena sering jimak maka otot membesar.

  19. Membantu cepatnya hamil.

  20. Mengatasi kejenuhan.

  21. Menambah wibawa seorang suami.

  22. Menambah baik penampilan dan merasa diawasi isteri-isteri.

  23. Menyehatkan badan.

  24. Memudahkan para wanita masuk surga.


Wallahu a'lam

No comments

Silakan berikan tanggapan ataupun komentar. Jika komen terdeteksi Spam akan kami hapus.

Powered by Blogger.