recent

Foreplay Sebelum Hubungan Seks dalam Islam

Sesungguhnya prinsip kebahagiaan dalam suami isteri itu ialah kepuasan suami isteri dalam berhubungan seks dan masing-masing mendapatkan kenikmatannya dari yang lainnya dengan kepuasan puncak (orgasme). Dan tidak ada celah berbahaya yang menimpa kehidupan suami isteri, kecuali disebabkan hilangnya kenikmatan itu bagi keduanya atau salah satunya, dan ini yang ingin kami jelaskan dan kami paparkan jalan keluarnya dalam bab ini, dengan pertolongan Allah Swt .

Agar jima' tersebut membahagiakan suami isteri, maka harus dijaga perkara-perkara yang disebut sebagai pendahuluan atau pemanasan bagi persetubuhan dan membantu untuk mencapai kenikmatan puncak yang memuaskan. Diantara pendahuluan yang terpenting sebagai berikut :

1. Berhias dan Memakai Wangi-Wangian.

Sesungguhnya perhiasan dan wangi-wangian adalah dua hal yang menyempurnakan bagi laki-laki dan wanita, yang akan menambah bagus dan indahnya. Adapun perhiasan itu adalah kenikmatan bagi mata, karena mata akan senang dengan memandang sesuatu yang indah. Dan wangi-wangian adalah kenikmatan bagi penciuman karena manusia akan merasa senang dengan mencium bau yang wangi.

Oleh karena inilah, maka syariat yang mulia ini menganjurkan kepada setiap muslim untuk berhias dan memakai wangi-wangian untuk sholat jum'at dan hari raya, dan dalam semua perkumpulan, dan pertemuan-pertemuan umum. Hal itu agar seorang muslim menjadi indah di mata saudaranya, wabaunya sehingga tidak seorang pun menghindar darinya. Dan sangat ditekankan perkara ini dalam pergaulan suami isteri, maka bagi isteri, hendaknya memelihara perhiasannya dan memakai wangi-wangian di depan suaminya, lebih-lebih sebelum bersetubuh, karena perhiasan itu akan memperindahnya di mata suaminya. Dan wangi-wangian itu akan merangsang suami terhadap isterinya dan suka kepadanya.

Dan perhiasan itu meliputi :

Isteri memakai pakaian/kain yang indah untuk menyenangkan suaminya, baik yang pendek maupun panjang, tebal maupun tipis (sesuai selera suami).

Isteri harus menyisir rambutnya dan memperindahnya serta menghilangkan rambut-rambut yang tumbuh di kedua tangan dan betisnya (bila suami tidak menyukainya), memelihara kebersihan tubuhnya dan mulutnya, serta menghilangkan bau yang tidak enak dari ketiaknya.

Isteri harus memelihara kelangsingan tubuhnya, menjauhi kegemukan semampunya, karena kelangsingan tubuh itu indah.

Berhias untuk suaminya dengan memakai emas dan yang lainnya dari asesoris wanita dan memakai alat-alat kecantikan seperti celak dan gincu atuu lipstik (optional, tergantung selera suami).

Dan wanita tidak boleh memakai wangi-wangian dan berhias seperti yang telah kami sebutkan, kecuali untuk suaminya saja. Karena wanita yang berhias dan memakai wangi-wangian untuk selain suaminya adalah berdosa. Sebab wangi-wangian dan perhiasan adalah tempat bersenang-senang bagi laki-laki dan wanita. Maka seorang wanita tidak boleh menampakkan dirinya untuk dinikmati orang lain kecuali suaminya. Demikian pula bagi suami agar melakukan perbuatan yang sama dengan wanita dalam persiapannya, karena firman Allah Swt

["Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang menurut kewajibannya dengan cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya"] Al-Baqarah : 228



Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari bahwa Abdillah bin Abbas r.a , beliau berkata : "Sesungguhnya aku suka untuk berhias bagi isteriku, sebagaimana aku suka isteriku berhias dan berdandan untukku". Hal itu dalam rangka mengamalkan ayat tersebut di atas. Maka bagi lelaki untuk memotong rambutnya, terutama kumis sampai nampak putih bibirnya, menjaga kebersihan tubuh dan mulutnya, berdandan dan berhias yang layak untuk isterinya. Dan hendaknya memakai wangi-wangian agar terlihat indah dan tercium bau yang harum.

Bila perkara ini diperhatikan dan dijaga oleh suami-isteri, sebelum bersetubuh khususnya, maka Insya Allah keduanya telah mewujudkan sebab-sebab kebahagiaan yang terpenting.

2. Telanjang

Bukan termasuk hal baik seorang suami menyetubuhi isterinya dalam keadaan keduanya memakai pakaian, karena hal itu akan menghalangi keduanya untuk mencapai puncak kenikmatan yang dicari. Maka lebih baik keduanya telanjang, walaupun sampai 'telanjang bulat'. Karena keadaan telanjang secara keseluruhan adalah terbaik bagi keduanya. Dan tidak ada dosa bagi masing-masing suami isteri memandangi anggota tubuh isteri atau suaminya, termasuk memandang kemaluannya.

3. Muda'abah

Yaitu pemanasan terakhir yang mendekati persetubuhan. Yang dimaksud adalah bercumbu rayu dan berlemah lembut baik dengan ucapan maupun perbuatan dengan tujuan untuk membangkitkan syahwat.

Al-Muda'abah dengan perbuatan dapat berupa :

Berciuman (saling berciuman) antara suami dan isteri, dan yang terbaik adalah ciuman mulut dengan mulut dan 'mengulum lidah' (bersambung lidah).

Meremas buah dada, yaitu suami mempermainkan buah dada isterinya dengan jari-jarinya, menciumnya dan boleh meneteknya. Hal ini sangat merangsang syahwat isterinya.

Muda'abah suami isteri pada anggota yang lain dengan tangan atau yang lainnya. Disebutkan oleh Khatib Syarbini As-Syafi'i dalam kitab Mughni Al-Muhtaaj, juz 3 hal. 134: telah ditanya Imam Abu Hanifah tentang seorang laki-laki yang memegang kemaluan isterinya dan sebaliknya, lalu beliau menjawab: "Tidak mengapa, dan aku berharap semoga Allah membesarkan pahala keduanya." Dan yang terpenting dalam bab ini adalah bermain-main kelentit yaitu anggota yang kecil serupa dengan jengger ayam, yang sangat peka dengan rangsangan, yang terletak di antara dua bibir kecil dari bagian atas kemaluan wanita. Kelentit tersebut sama dengan kepala dzakar pada laki-laki. Perlu diketahui bahwa mempermainkan 'kelentit' nya wanita dapat mengantarkan syahwatnya sampai batas puncak (orgasme) dan menjadikan wanita pasrah pada suaminya secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami peringatkan pada kaum wanita, jangan sering-sering berobat pada dokter dalam penyakit kewanitaan, kecuali karena darurat secara syar'i. Karena pada realitanya, meskipun dia seorang dokter (laki-laki) yang membantu pengobatan bagi wanita, pasti akan melihat kemaluan wanita tersebut. Ini merupakan bahaya yang besar.

4. Al-Mubasyaroh

Artinya menempelnya kulit dengan kulit dengan cara saling berpelukan, berdekapan antara suami-isteri. Maka setelah melakukan pendahuluan-pendahuluan ini jadilah suami isteri tersebut di atas persiapan yang sempurna untuk berjima'. Dan keduanya akan mendapatkan apa yang diinginkan berupa kenikmatan, penjagaan terhadap kemaluan dan kehormatan.

Wallahu a'lam

No comments

Silakan berikan tanggapan ataupun komentar. Jika komen terdeteksi Spam akan kami hapus.

Powered by Blogger.